Juara bertahan Lydia Ko datang dengan misi jelas: mempertahankan gelar HSBC Women’s World Championship yang mulai bergulir Kamis (26/2) di Sentosa Golf Club, tepatnya di Tanjong Course yang tahun lalu menjadi saksi dominasinya.
Pada edisi sebelumnya, Ko tampil solid dan menutup turnamen dengan keunggulan empat pukulan untuk mengangkat trofi di percobaan ke-11-nya. Gelar tersebut terasa emosional bagi pegolf Selandia Baru itu, bukan hanya karena hadiah total 3 juta dolar Amerika Serikat, tetapi juga karena ikatan personal yang ia bangun selama bertahun-tahun tampil di Singapura.
“Kemenangan ini sangat istimewa. Saya merasa telah menjalin banyak persahabatan yang baik setelah bermain di Singapura selama bertahun-tahun,” ujar Ko, anggota LPGA Hall of Fame dan peraih emas Olimpiade Paris 2024.
Baginya, atmosfer dan dukungan publik Singapura kerap menjadi energi tambahan. “Hasil mungkin nomor dua. Saya hanya ingin bermain bagus di depan teman-teman dan penggemar yang saya kenal di sini,” katanya.
Konsistensi dan Ambisi Grand Slam
Sejak turnamen ini pertama kali digelar pada 2008, Ko hanya sekali absen. Konsistensi itu mencerminkan kedekatannya dengan event yang kerap disebut sebagai “Asia’s Major”.
Musim lalu menjadi salah satu periode paling istimewa dalam kariernya. Setelah menjalani tahun 2024 yang penuh momen penting, Ko membuka 2025 dengan kemenangan di Singapura—sebuah awal musim yang nyaris sempurna.
Kini, di usia 28 tahun, motivasi terbesarnya adalah melengkapi Career Grand Slam. Ko telah mengoleksi tiga dari lima gelar major dan melengkapi koleksi tiga medali Olimpiade—rekam jejak yang menempatkannya di jajaran elite generasinya.
“Saya belum meraih Career Grand Slam. Tapi saya merasa permainan saya berkembang ke arah yang tepat. Jika terus diasah, hasilnya akan mengikuti,” ujarnya.
Tantangan Berat dari Ratu Dunia
Namun, mempertahankan gelar di Singapura bukan perkara mudah. Dari total 72 pegolf elite yang tampil, delapan di antaranya berasal dari jajaran Top 10 dunia.
Salah satu ancaman terbesar datang dari pegolf nomor satu dunia, Jeeno Thitikul. Bintang Thailand itu baru saja menjuarai Honda LPGA Thailand—gelar LPGA kedelapannya—dan finis T2 di Tanjong Course tahun lalu.
Meski menyandang status ratu dunia, Thitikul menegaskan tidak ingin terbebani. “Ini minggu baru dan semua orang punya kesempatan yang sama. Saya hanya fokus pada pekerjaan saya,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa konsistensi tidak selalu berarti kesempurnaan. “Anda tidak perlu 100 persen sempurna. Bisa 50 persen minggu ini, 60 persen minggu depan. Yang penting tahu bagaimana bangkit dan membuat keputusan yang tepat.”
Panggung Elite Asia
Dengan kombinasi juara bertahan yang sedang memburu sejarah dan pemain nomor satu dunia yang datang dalam performa panas, HSBC Women’s World Championship kembali menghadirkan duel kelas dunia di jantung Asia.
Bagi Lydia Ko, ini bukan sekadar mempertahankan trofi. Ini tentang menjaga momentum, mendekatkan diri pada Grand Slam, dan sekali lagi menulis kisah manis di Tanjong Course—tempat di mana ia merasa seperti di rumah sendiri.










Users Today : 294
This Month : 9350
This Year : 43079
Total Users : 324078
Total views : 947773
0 Comments