Kemitraan yang selama ini terlihat solid antara Bryson DeChambeau dan LA Golf resmi berakhir.
Hubungan yang sempat menjadi salah satu kolaborasi paling ikonik dalam dunia peralatan golf modern itu kandas bukan karena performa, melainkan persoalan kepemilikan dan kendali perusahaan.
Selama beberapa tahun terakhir, DeChambeau identik dengan shaft LA Golf. Bahkan, dalam fase tertentu, ia juga menggunakan kepala stik produksi perusahaan tersebut yang dirancang khusus untuk mengakomodasi ayunan satu bidang (single-plane swing) dan kecepatan ayun ekstrem miliknya.
Namun di balik keselarasan teknis di lapangan, terjadi tarik-menarik kepentingan di ruang rapat.
Ultimatum 51 Persen
Pendiri LA Golf, Reed Dickens, mengonfirmasi bahwa perpisahan dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai struktur kepemilikan.
Menurut Dickens, DeChambeau—melalui penasihat bisnis barunya—mengajukan keinginan untuk menjadi pemilik mayoritas perusahaan. Saat ini, pegolf yang berkompetisi di LIV Golf itu dilaporkan hanya memiliki sekitar dua persen saham.
“Bryson akan pergi kecuali dia mendapatkan 51 persen,” ujar Dickens, menggambarkan situasi yang berkembang menjadi ultimatum.
Permintaan tersebut dinilai terlalu jauh dari struktur kepemilikan yang ada. Dickens menegaskan bahwa memberikan kendali mayoritas bukan opsi yang realistis bagi perusahaan.
Meski nada pernyataannya terdengar tegas, Dickens membantah adanya konflik personal. Ia tetap menyebut DeChambeau sebagai sosok yang ia hormati, hanya saja kebutuhan dan arah keduanya sudah tidak lagi selaras.
Salah satu tantangan utama, menurut Dickens, adalah tuntutan personalisasi ekstrem yang diinginkan DeChambeau.
“Bryson membutuhkan seseorang yang melayaninya 24 jam sehari; dia membutuhkan seseorang untuk membuatkan stik golfnya sendiri, dan itu tidak dapat kami laksanakan dalam skala besar,” katanya.
Sukses Besar yang Sulit Dilupakan
Perpisahan ini terasa kontras jika melihat rekam jejak sukses keduanya.
DeChambeau meraih gelar mayor pertamanya di US Open yang digelar di Winged Foot Golf Club dengan 14 shaft LA Golf di dalam tasnya. Formula tersebut kembali membuahkan hasil saat ia menjuarai US Open di Pinehurst Resort.
Pada Masters Tournament, DeChambeau juga tampil impresif hingga babak final dan bermain bersama juara akhirnya, Rory McIlroy. Saat itu, ia kembali mengandalkan satu set lengkap shaft LA Golf.
Kolaborasi tersebut bukan sekadar sponsor–atlet biasa. LA Golf menyesuaikan produk mereka secara spesifik dengan filosofi permainan DeChambeau—mulai dari bobot, profil shaft, hingga desain kepala stik yang mendukung pendekatan ilmiah dan eksperimentalnya terhadap golf.
Apa Selanjutnya?
Perpisahan ini membuka pertanyaan besar: ke mana arah eksperimen teknologi DeChambeau berikutnya?
Dikenal sebagai pegolf yang selalu mencari keunggulan teknis—dari panjang stik hingga optimasi kecepatan bola—DeChambeau hampir pasti tidak akan berhenti berinovasi. Sementara itu, LA Golf kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa mereka mampu berkembang tanpa figur paling eksentrik dan paling terekspos dalam portofolio mereka.
Di dunia golf modern, performa di lapangan sering kali berjalan beriringan dengan strategi bisnis di luar lapangan. Kasus DeChambeau dan LA Golf menjadi pengingat bahwa dalam industri bernilai jutaan dolar, chemistry teknis saja tidak cukup—visi kepemilikan dan kontrol bisa menjadi faktor penentu akhir sebuah kemitraan.










Users Today : 277
This Month : 9333
This Year : 43062
Total Users : 324061
Total views : 947600
0 Comments