Punya banyak variasi pukulan memang menjadi salah satu senjata penting di lapangan golf. Namun, bagi Lee Trevino, kemampuan melakukan draw, fade, pukulan rendah, atau recovery dari posisi sulit bukan berarti pegolf harus membuat permainan menjadi rumit.
Justru sebaliknya.
Legenda golf Amerika Serikat yang mengoleksi enam gelar major itu percaya bahwa salah satu kunci shotmaking adalah mengetahui kapan harus kreatif dan kapan harus memainkan pukulan paling sederhana.
Trevino pernah membagikan 10 prinsip dalam memainkan berbagai jenis pukulan. Tips tersebut pertama kali ditulis bersama Guy Yocom untuk Golf Digest pada 2009 dan kemudian dipublikasikan GolfWRX.
Meski berasal dari pengalaman bermain puluhan tahun lalu, sebagian besar prinsipnya masih terasa relevan untuk pegolf rekreasional saat ini.
1. Pilih Pukulan Termudah
Prinsip pertama Trevino justru paling sederhana: jangan membuat golf lebih sulit daripada yang seharusnya.
Jika posisi bola berada di tengah fairway dengan jalur terbuka menuju green, tidak perlu sengaja memainkan low hook, high fade, atau pukulan spektakuler lainnya.
Tujuan utama tetap membawa bola dari satu titik menuju target dengan risiko sekecil mungkin.
Menurut Trevino, pukulan kreatif sebaiknya digunakan ketika situasi memang menuntutnya, bukan hanya karena seorang pegolf ingin menunjukkan kemampuan.
Dengan kata lain, sebelum mencoba hero shot, tanyakan satu hal: apakah pukulan tersebut benar-benar diperlukan?
2. Sederhanakan Draw dan Fade
Membentuk arah bola menjadi draw atau fade sering dianggap membutuhkan perubahan besar dalam swing.
Trevino memilih pendekatan yang lebih sederhana.
Alih-alih mengubah seluruh jalur swing, ia memainkan posisi tangan saat address.
Untuk menghasilkan draw, Trevino menggeser tangan sedikit lebih ke depan sambil mempertahankan clubface menghadap target.
Sementara untuk fade, tangan ditempatkan sedikit lebih ke belakang.
Prinsip utamanya adalah melakukan perubahan kecil pada setup, kemudian tetap melakukan swing senormal mungkin.
Bagi pegolf amatir, pendekatan seperti ini juga dapat membantu mengurangi terlalu banyak pikiran teknis ketika berdiri di atas bola.
3. Biarkan Stik Membantu Membentuk Pukulan
Tidak semua variasi pukulan harus diciptakan melalui manipulasi swing.
Trevino pernah menemukan hal tersebut ketika mencoba prototipe 7-wood TaylorMade sebelum Skins Game 1987.
Stik tersebut memungkinkan dirinya memainkan bola tinggi, rendah, draw, hingga fade dengan perubahan swing yang relatif minimal.
Pengalaman itu menghasilkan satu pelajaran: manfaatkan desain stik yang tersedia.
Saat ini pilihan tersebut bahkan jauh lebih banyak, mulai dari hybrid, utility iron hingga beragam jenis fairway wood.
Jika sebuah hybrid dapat mengangkat bola dari posisi sulit dengan lebih mudah, tidak ada alasan memaksakan long iron hanya demi terlihat lebih hebat.
Peralatan seharusnya membantu permainan menjadi lebih sederhana.
4. Ingin Bola Rendah? Jangan Hanya Geser Bola ke Belakang
Cara umum untuk memainkan pukulan rendah adalah menempatkan bola lebih ke belakang dalam stance.
Namun Trevino mempunyai pendekatan berbeda.
Ia menyarankan berdiri sedikit lebih dekat dengan bola dan menekuk lutut sehingga posisi tangan juga lebih dekat dengan tubuh.
Gerakan tubuh melalui impact kemudian membantu tangan berada lebih depan dari clubhead sehingga loft berkurang dan menghasilkan trajektori lebih rendah.
Sementara untuk memainkan bola tinggi, Trevino cenderung menempatkan bola lebih ke depan dan menjaga kepala tetap berada di belakang bola saat impact.
Namun, teknik ini perlu dicoba lebih dahulu di driving range sebelum digunakan ketika skor sedang dipertaruhkan.
5. Jangan Terlalu Sering Grip Down pada Full Swing
Memegang grip lebih pendek atau choke down memang dapat memberikan kontrol.
Tetapi Trevino tidak menyarankan menjadikannya kebiasaan untuk setiap pukulan penuh.
Menurutnya, grip yang terlalu pendek dapat mengubah karakter stik dan membuat pegolf justru terdorong melakukan swing lebih keras.
Untuk chip dan pitch, teknik tersebut tetap berguna karena kontrol menjadi prioritas.
Namun pada stik yang lebih panjang, Trevino lebih menyukai grip normal dan swing yang terkendali dibandingkan memendekkan pegangan kemudian menyerang bola dengan tenaga maksimal.
6. Pelajari Bagaimana Bola Bereaksi dari Berbagai Lie
Kemampuan shotmaking tidak hanya berasal dari swing.
Salah satu kemampuan terpenting adalah memahami apa yang akan terjadi terhadap bola setelah kontak.
Trevino mencontohkan pukulan wedge dari fluffy lie atau rumput ringan. Bola dapat keluar dengan spin lebih sedikit dan membawa jarak berbeda dibandingkan pukulan dari fairway.
Begitu pula ketika terdapat lumpur pada bola.
Tidak ada rumus yang benar-benar sempurna karena hasilnya dipengaruhi jenis lie, swing speed, loft stik, dan kondisi bola.
Karena itu, Trevino menilai pegolf perlu bereksperimen.
Semakin banyak kondisi yang pernah dicoba ketika latihan, semakin sedikit kejutan ketika situasi serupa muncul di lapangan.
7. Saat Trouble, Jangan Mendadak Jadi Seve Ballesteros
Trevino menganggap Seve Ballesteros sebagai salah satu pemain recovery terbaik yang pernah ada.
Masalahnya, tidak semua pegolf memiliki kemampuan seperti Seve.
Ketika bola masuk pepohonan atau berada dalam posisi buruk, pegolf amatir sering melihat celah kecil dan membayangkan pukulan ajaib menuju green.
Padahal peluang keberhasilannya mungkin sangat kecil.
Trevino menyarankan mengambil jalur terpendek untuk kembali menuju area aman.
Satu bogey akibat melakukan pitch out sering kali jauh lebih baik dibandingkan double atau triple bogey setelah bola kembali menghantam pohon.
Intinya sederhana: jangan menjadikan satu kesalahan sebagai dua kesalahan.
8. Grip Juga Menentukan Variasi Pukulan
Trevino menilai grip yang sangat kuat dapat membuat variasi pukulan menjadi lebih sulit.
Ia mencontohkan Ben Hogan yang menggunakan grip relatif lemah dan mampu memainkan berbagai trajektori serta bentuk pukulan dengan kontrol tinggi.
Bukan berarti strong grip selalu salah.
Trevino sendiri menggunakannya dan tetap mencapai level tertinggi dalam golf.
Namun bagi pemain yang ingin memperluas kemampuan memainkan draw, fade, dan pukulan lurus, grip netral dapat memberikan titik awal yang lebih fleksibel.
Perubahan grip tentu tidak sebaiknya dilakukan mendadak ketika bermain. Perlu waktu latihan agar posisi baru terasa alami.
9. Kreativitas Juga Berlaku dengan Putter
Shotmaking tidak berhenti setelah bola mencapai green.
Trevino juga melakukan beberapa penyesuaian berdasarkan karakter putt.
Pada putt menurun yang cepat, misalnya, ia dapat sedikit mengangkat putter dari permukaan ketika address agar stroke terasa lebih halus.
Pada putt panjang menanjak, posisi kontak juga menjadi perhatian karena stroke yang lebih panjang dapat mengubah titik impact.
Pesannya bukan berarti pegolf perlu menciptakan teknik berbeda untuk setiap putt.
Stroke utama tetap harus konsisten. Namun dalam kondisi tertentu, sedikit penyesuaian dapat membantu menghadapi kecepatan dan break yang ekstrem.
10. Jangan Terlalu Percaya pada Stik Favorit
Hampir setiap pegolf punya satu stik yang terasa sangat nyaman.
Bagi Trevino, stik tersebut pernah berupa 7-wood.
Namun kepercayaan berlebihan terhadap stik favorit pernah membuatnya mengambil keputusan agresif pada Senior Players Championship 1991.
Dari jarak sekitar 215 yard menuju green yang dijaga air, Trevino memilih menyerang dengan 7-wood meski caddie menyarankannya melakukan lay-up.
Pukulannya bagus, tetapi bola tidak cukup jauh dan berakhir di air.
Pelajarannya?
Percaya diri terhadap stik memang penting, tetapi jangan sampai rasa percaya tersebut mengalahkan penilaian terhadap risiko.
Stik favorit tetap memiliki batas.
Shotmaking Bukan Berarti Harus Spektakuler
Jika seluruh prinsip Trevino dirangkum menjadi satu gagasan, shotmaking bukan tentang seberapa banyak pukulan ajaib yang bisa dimainkan seorang pegolf.
Justru pemain yang baik memahami karakter bola, kondisi lie, kemampuan stik, dan risiko sebelum menentukan pukulan.
Trevino membangun reputasinya sebagai salah satu shotmaker hebat dalam sejarah golf dengan kemampuan mengontrol trajektori dan arah bola. Ia memenangi U.S. Open dua kali, The Open dua kali, serta PGA Championship dua kali sepanjang kariernya.
Namun pelajaran yang ditinggalkannya untuk pegolf amatir terdengar jauh lebih sederhana.
Mainkan pukulan termudah ketika memungkinkan, pahami kemampuan sendiri, dan jangan mengambil risiko hanya karena sebuah pukulan terlihat keren.
Karena pada akhirnya, kartu skor tidak mencatat seberapa indah sebuah pukulan—hanya berapa banyak pukulan yang dibutuhkan untuk memasukkan bola ke dalam hole.









Users Today : 2036
This Month : 49503
This Year : 372610
Total Users : 653609
Total views : 1469150
0 Comments