28/09/2026
by Rudy Iskandar

Offset Kembali Dilirik di PGA Tour, Apa Keuntungannya?

Dalam dunia equipment golf, teknologi lama terkadang menemukan jalannya kembali. Itulah yang mulai terlihat di PGA Tour, ketika sejumlah pemain kembali bereksperimen dengan wedge ber-offset cukup besar—sebuah karakter desain yang…...
"

Start reading

Dalam dunia equipment golf, teknologi lama terkadang menemukan jalannya kembali.

Itulah yang mulai terlihat di PGA Tour, ketika sejumlah pemain kembali bereksperimen dengan wedge ber-offset cukup besar—sebuah karakter desain yang justru semakin jarang terlihat pada wedge modern dalam satu dekade terakhir.

Rickie Fowler dan Gary Woodland termasuk di antara pemain yang mencoba pendekatan tersebut. Keduanya menggunakan wedge dengan bentuk hosel yang menciptakan offset lebih besar dibandingkan desain wedge konvensional saat ini.

Cobra bahkan menyiapkan versi khusus King dan Snake Bite dengan offset untuk Fowler dan Woodland, sementara Cleveland sebelumnya mengembangkan prototipe RTZ dengan konsep serupa.

Lantas, mengapa desain yang sempat ditinggalkan itu kembali menarik perhatian pemain terbaik dunia?

Jawabannya bukan semata-mata soal forgiveness.

Tour Operations Manager Cobra Ben Schomin menjelaskan offset dapat membantu pemain mendapatkan kontak yang lebih konsisten. Posisi tangan secara alami bisa berada sedikit lebih maju ketika impact sehingga bola cenderung mengenai bagian muka stik yang lebih ideal.

Efek lainnya adalah trajectory yang lebih rendah.

Menurut Schomin, tambahan offset memungkinkan pemain menciptakan shaft lean lebih besar saat impact. Bola kemudian bisa diluncurkan lebih rendah sekaligus memberikan pemain rasa kontrol yang lebih baik.

Michael Jolly, Director of Tour Operations Cleveland/Srixon, juga melihat manfaat serupa.

Konsep offset tersebut dikembangkan kembali setelah keterlibatan Roger Cleveland, salah satu figur berpengaruh dalam desain wedge. Menurut Jolly, built-in shaft lean dari offset dapat membantu mencegah bola terlalu lama “menempel” pada muka stik.

Pada kondisi tersebut, pemain berpotensi memperoleh launch yang lebih rendah dengan spin lebih banyak—dua karakteristik yang sangat dicari ketika mengontrol pukulan pendek.

Menariknya, teknologi tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru.

Schomin mengatakan apabila melihat wedge dari sekitar 30 hingga 40 tahun lalu, bentuk offset seperti yang sekarang sedang diuji di PGA Tour bukanlah sesuatu yang asing.

Tren desain kemudian berubah. Wedge modern cenderung dibuat dengan offset yang semakin kecil karena banyak pemain lebih menyukai tampilan leading edge yang terlihat lurus ketika melakukan address.

Namun, kebutuhan setiap pemain berbeda.

Cameron Young, misalnya, menggunakan wedge Titleist Vokey yang hoselnya dimodifikasi dengan teknik double bend untuk menghasilkan tampilan offset sesuai preferensinya.

Dalam kasus Young, perubahan itu lebih berkaitan dengan tampilan saat address daripada mengejar keuntungan performa secara langsung.

Collin Morikawa juga sempat menggunakan TaylorMade MG5 yang dimodifikasi dengan hosel double bend. Tujuannya membantu posisi tangan lebih ke depan ketika melakukan chip.

Fenomena tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana equipment di level profesional semakin personal.

Pegolf PGA Tour tidak selalu mencari stik dengan teknologi terbaru. Mereka mencari konfigurasi yang memberikan kontak, trajectory, spin, dan visual terbaik sesuai karakter pukulan masing-masing.

Hal serupa terlihat pada iron. Banyak pemain terbaik dunia kini menggunakan kombinasi beberapa model dalam satu set demi memperoleh forgiveness pada long iron tanpa kehilangan kontrol pada scoring iron. Hampir seluruh pemain papan atas dalam statistik approach juga menggunakan konsep blended atau combo set.

Karena itu, kemunculan kembali offset pada wedge bukan berarti seluruh pemain PGA Tour akan segera menggunakannya.

Titleist melalui spesialis wedge Aaron Dill menilai desain tersebut tetap sangat bergantung pada preferensi individu. Cleveland juga mengakui penggunaannya kemungkinan terbatas.

Namun, Cobra melihat peluang bahwa konsep itu suatu saat dapat kembali masuk ke produk retail apabila semakin banyak pemain tertarik mencobanya.

Bagi pegolf amatir, tren ini memberikan satu pelajaran menarik: desain yang terlihat kuno belum tentu kehilangan relevansi.

Dalam golf, teknologi terbaik tidak selalu yang paling baru. Kadang-kadang, solusi yang dicari pemain justru sudah pernah digunakan puluhan tahun sebelumnya.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pick your next post

Contact Us

Address : Jl. Media No.88 - Jakarta Barat - 18789 - INDONESIA
______________________________
Email : halo@golftimes.id
Office : 0812-3456-7890
Advertising Info : 0811-1967-688

Information

  • Redaksi
  • Karir
  • Media Partner
  • Info Iklan

Categories

News
Profile
Junior & Amatir
Video
Tips & Tricks

663555
Users Today : 1446
This Month : 3142
This Year : 382556
Total Users : 663555
Total views : 1489541