10/09/2026
by Rudy Iskandar

Dari Pasar ke Meja Dunia, Gastronomi Indonesia Bersiap Naik Kelas

Bagi seorang pegolf, perjalanan tidak selalu selesai ketika putt terakhir masuk ke lubang ke-18. Ada makan malam setelah bermain, secangkir kopi keesokan paginya, atau kesempatan mencicipi hidangan yang hanya bisa…...
"

Start reading

Bagi seorang pegolf, perjalanan tidak selalu selesai ketika putt terakhir masuk ke lubang ke-18. Ada makan malam setelah bermain, secangkir kopi keesokan paginya, atau kesempatan mencicipi hidangan yang hanya bisa ditemukan di destinasi yang sedang dikunjungi.

Di titik itulah golf, perjalanan, dan kuliner kerap bertemu.

Indonesia kini ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh dengan menjadikan gastronomi sebagai salah satu daya tarik perjalanan. Bukan hanya perkara makanan lezat, tetapi juga cerita mengenai bahan lokal, tradisi, pasar, masyarakat, hingga sejarah yang tersimpan di balik setiap sajian.

Momentum itu akan diperlihatkan melalui Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026, yang berlangsung pada 26 September hingga 4 Oktober 2026 di Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Bali.

Ajang tersebut diproyeksikan bukan sekadar festival makanan. WIG 2026 dirancang sebagai perjalanan gastronomi yang mempertemukan chef, pelaku industri kuliner dan pariwisata, komunitas kreatif, media, hingga produsen lokal dalam satu rangkaian pengalaman.

Dari istana menuju pasar

Salah satu perjalanan utama WIG 2026 akan berlangsung di Solo dan Yogyakarta.

Rangkaian dimulai dengan opening dinner di Pura Mangkunegaran, Solo, pada 26 September. Lingkungan istana bersejarah tersebut akan menjadi panggung yang mempertemukan tradisi Jawa dengan pendekatan kuliner kontemporer.

Perjalanan kemudian bergerak keluar dari meja makan menuju tempat di mana denyut kuliner sesungguhnya berlangsung.

Kampung Laweyan dan Pasar Gede termasuk dalam rute perjalanan di Solo. Di pasar, peserta dapat melihat lebih dekat rempah, hasil bumi, makanan tradisional, serta interaksi antara pedagang dan masyarakat yang selama bertahun-tahun menopang ekosistem makanan setempat.

Pendekatan ini memberi perspektif berbeda terhadap sebuah sajian. Makanan tidak lagi dilihat hanya ketika sudah berada di atas piring, tetapi sejak bahan tersebut berasal, diperdagangkan, diolah, hingga akhirnya tiba di meja makan.

Yogyakarta menawarkan cerita berikutnya.

Rangkaian perjalanan mencakup sajian tradisional Jawa, kunjungan ke Ambarrukmo Heritage Complex dan Pasar Beringharjo, serta pengalaman mencicipi keju artisan di Mazaraat Artisan Cheese.

Perpaduannya menarik. Di satu sisi terdapat pasar tradisional dan resep yang bertahan lintas generasi. Di sisi lain, tumbuh produsen artisan dan generasi baru pelaku kuliner yang mengembangkan produk dengan pendekatan lebih modern.

Keduanya memperlihatkan bahwa gastronomi Indonesia tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi atau mengejar inovasi.

Keduanya bisa berjalan bersama.

Bersantap dengan latar Prambanan

Salah satu agenda paling menarik akan berlangsung pada 1 Oktober 2026 melalui Cultural Dinner di kawasan Candi Prambanan.

Kompleks candi yang telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO itu akan menjadi latar pengalaman bersantap yang memadukan kuliner dengan sejarah dan pertunjukan budaya.

Konsep semacam ini memperlihatkan perubahan dalam cara sebuah destinasi menjual pengalaman.

Wisatawan tidak semata datang untuk melihat landmark, mengambil foto, kemudian pulang. Kuliner membuat mereka mempunyai alasan untuk tinggal lebih lama dan mendapatkan pengalaman yang lebih personal terhadap sebuah tempat.

Dalam perjalanan golf, pola semacam ini sebenarnya bukan hal asing.

Destinasi golf terbaik dunia hampir selalu menawarkan sesuatu di luar lapangan: resort, restoran, budaya, hiburan, hingga pengalaman lokal yang membuat perjalanan tidak hanya diingat berdasarkan skor di kartu.

Indonesia mempunyai modal untuk membangun pengalaman serupa.

Bali sudah lama mempertemukan resort, golf, budaya, pantai, dan industri kuliner dalam satu perjalanan. Namun gastronomi membuka kesempatan bagi daerah lain untuk menawarkan pengalaman dengan karakter berbeda.

Solo dan Yogyakarta, misalnya, memiliki kekuatan berupa keraton, kawasan heritage, pasar tradisional, makanan Jawa, produk artisan, hingga situs bersejarah yang dapat dirangkai menjadi sebuah perjalanan utuh.

Tak hanya fine dining

Menariknya, upaya membawa gastronomi Indonesia ke panggung internasional tidak hanya bertumpu pada restoran premium.

Dalam WIG 2026 juga disiapkan Wonderful Indonesia Gourmet Guide dan Street Food Guide. Sejumlah hotel di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali akan menghadirkan kolaborasi chef dengan menu yang mengambil inspirasi dari bahan pangan serta cita rasa daerah.

Festival kuliner dan program promosi restoran juga masuk dalam rangkaian acara.

Artinya, pengalaman gastronomi Indonesia dapat bergerak dari satu ujung ke ujung lainnya.

Pagi hari seseorang mungkin menikmati makanan dari pasar tradisional. Siang hari mencoba kedai lokal yang sudah bertahan puluhan tahun. Malamnya, bahan dan rasa yang sama bisa hadir kembali melalui interpretasi berbeda di sebuah restoran hotel.

Justru rentang pengalaman itulah yang menjadi salah satu kekuatan kuliner Indonesia.

Dengan banyaknya daerah, suku, bahan pangan, dan tradisi memasak, satu perjalanan bisa menghadirkan karakter rasa yang sangat berbeda dari perjalanan berikutnya.

Kuliner menjadi alasan bepergian

Gastronomi juga semakin ditempatkan sebagai bagian dari strategi pariwisata Indonesia.

Dalam rencana pengembangan pariwisata, gastronomi masuk bersama marine tourism dan wellness sebagai produk yang diarahkan untuk memperkuat pariwisata berkualitas. Diversifikasi produk wisata tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap lama tinggal, pengeluaran wisatawan, sekaligus peluang kunjungan ulang.

Itu membuat makanan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar pelengkap perjalanan.

Orang mungkin memilih sebuah destinasi karena ingin bermain di lapangan golf tertentu, mengunjungi pantai, atau melihat bangunan bersejarah. Tetapi restoran yang berkesan, makanan yang tidak ditemukan di tempat lain, dan cerita di belakang sebuah hidangan dapat menentukan bagaimana perjalanan tersebut dikenang.

Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 membawa gagasan itu melalui tema “From Local Roots to Global Recognition.”

Visinya adalah membawa gastronomi Indonesia menuju pengakuan yang lebih luas dengan tetap bertumpu pada warisan kuliner, masyarakat lokal, keberlanjutan, serta inovasi.

Dan mungkin di situlah peluang terbesar Indonesia berada.

Kita memiliki rendang, sate, gudeg, rawon, soto, hingga ribuan sajian lainnya. Namun di balik nama-nama yang sudah dikenal tersebut masih terdapat cerita tentang petani, rempah, pasar, teknik memasak, keluarga yang menjaga resep, hingga daerah tempat sebuah hidangan dilahirkan.

Ketika seluruh cerita itu dirangkai menjadi pengalaman perjalanan, kuliner tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan tentang apa yang akan dimakan.

Ia bisa menjadi alasan seseorang menentukan ke mana akan pergi berikutnya.

Dan setelah sebuah ronde golf selesai, barangkali perjalanan terbaik memang baru dimulai dari meja makan.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pick your next post

Contact Us

Address : Jl. Media No.88 - Jakarta Barat - 18789 - INDONESIA
______________________________
Email : halo@golftimes.id
Office : 0812-3456-7890
Advertising Info : 0811-1967-688

Information

  • Redaksi
  • Karir
  • Media Partner
  • Info Iklan

Categories

News
Profile
Junior & Amatir
Video
Tips & Tricks

663490
Users Today : 1381
This Month : 3077
This Year : 382491
Total Users : 663490
Total views : 1489402