Bagi Jeeno Thitikul, trofi Honda LPGA Thailand 2026 bukan sekadar tambahan gelar dalam daftar prestasi. Kemenangan di hadapan publik sendiri di Siam Country Club, 22 Februari lalu, terasa seperti memenangkan turnamen major.
“Saya tahu ini bukan major,” ujar pegolf yang baru merayakan ulang tahun ke-23 itu. “Tapi bagi saya, menang di negara sendiri sangat berarti—kadang terasa lebih besar dari major.”
Duel Dramatis di Pattaya
Thitikul harus bekerja keras sebelum memastikan gelar kedelapan di LPGA Tour. Tantangan terbesar datang dari pegolf Jepang, Chizzy Iwai, yang hampir merusak pesta tuan rumah.
Dua eagle Iwai di hole 7 dan 10 membuat papan skor memanas. Skor total keduanya sempat sejajar di angka 22-under-par, menciptakan tekanan luar biasa di sembilan hole terakhir.
Namun, sebagai pegolf nomor satu dunia, Thitikul menunjukkan ketenangan. Birdie di hole 17 menjadi momen krusial yang mengantarkannya unggul satu pukulan hingga akhir ronde. Sorak-sorai penonton Thailand pun pecah—sebuah perayaan yang telah dinanti sejak turnamen ini pertama kali digelar 19 tahun lalu.
Dengan kemenangan ini, Thitikul menjadi pegolf Thailand ketiga yang menjuarai Honda LPGA Thailand, menyusul Ariya Jutanugarn (2021) dan Patty Tavatanakit (2024).
Momen Emosional Bersama Sang Ibu
Gelar kali ini memiliki makna personal yang dalam. Untuk pertama kalinya, Thitikul mengangkat trofi LPGA di depan sang ibunda.
“Ketika saya menyelesaikan hole ke-18, dia benar-benar menangis. Saya bilang, ‘Akhirnya saya menang di depanmu.’ Dia ada di sini bersama saya,” kata Thitikul. “Dia sangat emosional, dan itu membuat saya juga ikut emosional.”
Bagi seorang atlet, dukungan keluarga kerap menjadi bahan bakar tersembunyi. Di Pattaya, energi itu terasa nyata.
Tak Perlu Sempurna untuk Menang
Menariknya, Thitikul mengaku tidak datang dengan rasa percaya diri penuh. Ia justru merasa tertekan dengan performa pukulan iron-nya menjelang turnamen.
“Saya cukup stres dengan iron saya. Pelatih saya melihat latihan saya sebelum datang ke sini, dan saya jadi memikirkan banyak hal,” ungkapnya.
Namun justru di tengah keraguan itu, ia menemukan kunci kemenangan: komitmen dan kepercayaan diri.
“Saya tidak tahu bagaimana bisa berada di posisi ini untuk menang. Tapi ini membuktikan bahwa Anda tidak perlu selalu sempurna untuk memenangkan turnamen. Yang Anda butuhkan adalah keyakinan dan komitmen yang kuat.”
Momentum Menuju Major
Honda LPGA Thailand menjadi gelar ketiganya dari lima penampilan terakhir di LPGA Tour, melanjutkan momentum sejak kemenangannya di Buick LPGA Shanghai akhir tahun lalu.
Kini, satu target besar masih membayangi: gelar major pertama. Dengan performa konsisten dan mental baja yang ia tunjukkan di Pattaya, Thitikul bukan hanya ratu dunia di atas kertas—ia juga simbol generasi baru golf Asia yang siap mendominasi panggung global.
Dan jika kemenangan di rumah sendiri terasa seperti major, maka ketika trofi major itu benar-benar datang, dunia mungkin akan menyaksikan perayaan yang jauh lebih besar lagi.









Users Today : 296
This Month : 9352
This Year : 43081
Total Users : 324080
Total views : 947789
0 Comments