Pertanyaan itu terdengar nyaris mustahil. Justin Thomas pun sadar betul. Namun menjelang U.S. Open di Oakmont, pikiran tersebut tetap sempat muncul di benaknya: bisakah ia mengejar Scottie Scheffler musim ini?
“Aku yakin beberapa orang akan menertawakannya,” kata Thomas jujur.
“Tapi aku sempat berpikir, ‘Bisakah aku mengejarnya tahun ini?’”
Di atas kertas, Thomas bukan sekadar pemimpi. Juara major dua kali itu saat ini menempati peringkat kelima dunia, posisi tertinggi di luar trio elit. Namun, kenyataan berbicara keras: jarak antara Scheffler dan para pengejarnya teramat lebar.
Scheffler unggul 239 poin atas Rory McIlroy di peringkat kedua, sementara Thomas tertinggal hampir 500 poin—jurang yang mencerminkan dominasi mutlak.
“Mungkin saja Scottie tidak main atau semacamnya,” ujar Thomas sambil berkelakar.
“Kamu tidak bisa mengejarnya kalau dia terus bermain seperti ini.”
Standar Baru Bernama Scheffler
Kelakar itu menyiratkan kenyataan pahit. Scheffler kini berada di level yang berbeda. Setelah awal musim 2025 yang relatif tenang, ia meledak sejak akhir Maret. Finis terburuknya hanya T-8 di RBC Heritage, turnamen yang justru dimenangkan Thomas.
Sejak saat itu, Scheffler mengoleksi enam finis lima besar, termasuk tiga kemenangan dalam empat turnamen terakhir, salah satunya di PGA Championship.
“Permainannya terlihat tanpa usaha,” kata Thomas.
“Setiap aspek luar biasa. Tapi mentalnya… itu mungkin yang terbaik di sini. Tetap fokus di bawah ekspektasi sebesar itu jauh lebih mengesankan daripada pukulan-pukulannya sendiri.”
Bagi Thomas, kekuatan mental itulah pembeda utama.
Pencarian Konsistensi Thomas
Musim 2025 Thomas sejauh ini terbilang solid, meski belum istimewa. Ia mencatat enam finis 10 besar dan satu kemenangan, namun juga menyimpan noda: T-36 di Masters dan gagal lolos cut di PGA Championship.
Masalahnya bukan kemampuan, melainkan konsistensi di momen krusial. Thomas mengakui kerap tampil kompetitif di awal turnamen, namun justru terlalu memaksakan diri saat akhir pekan.
Sejak 2013, ia bahkan tercatat gagal lolos cut di enam dari sepuluh turnamen major terakhir—angka yang kontras dengan kualitas permainannya.
Bayangan Masa Lalu, Tantangan Masa Kini
Thomas bukan asing dengan status nomor satu dunia. Ia pernah merasakannya pada 2018 (empat pekan) dan kembali ke puncak pada 2020 (lima pekan). Namun era itu kini terasa jauh.
Scheffler telah menaikkan standar di semua aspek—teknik, ketenangan, hingga konsistensi. Mengejarnya bukan sekadar soal menang lebih banyak, tetapi juga menyamai ritme kesempurnaan.
“Itu masih ada di pikiranku,” ujar Thomas.
“Aku tidak bisa mengontrol apa yang dia lakukan, dan dia tidak terlihat akan melambat. Aku hanya harus fokus menang di lebih banyak turnamen dan berharap itu cukup untuk mendekat.”








Users Today : 640
This Month : 25364
This Year : 80937
Total Users : 361936
Total views : 1039287
0 Comments