Gabriel Hansel Hari mungkin baru saja melepas status amatirnya, namun tekadnya sudah sekeras para pegolf elite yang lebih dulu malang melintang di panggung internasional.
Mandiri Indonesia Open 2025 di Pondok Indah Golf Course, 28–31 Agustus, akan menjadi turnamen Asia pertamanya sebagai pegolf profesional – sebuah langkah penting dalam perjalanan kariernya.
Hansel menegaskan bahwa ia datang bukan sekadar untuk meramaikan, melainkan untuk bersaing sebaik mungkin. Persiapan matang sudah ia jalani, mulai dari latihan teknis bersama pelatih asal Amerika Serikat Chris O’Connell hingga pendalaman mental dengan pelatih khusus.
“Targetnya pastinya main sebaik mungkin. Sepekan terakhir saya banyak latihan dan ngobrol sama pelatih teknis maupun pelatih mental. Mereka cukup yakin dengan game saya sekarang ini, jadi semoga bisa menang,” ujar Hansel di sela jumpa pers, Rabu (27/8).
Belajar Menjadi Profesional
Hansel menilai lompatan dari amatir ke profesional bukan hanya soal level permainan, tetapi terutama soal mentalitas. Jika di level amatir fokusnya ada pada permainan, kini ia dituntut untuk bisa menghadapi tekanan tambahan, termasuk ekspektasi dan iming-iming hadiah besar.
“Kalau main di profesional itu harus benar-benar stay in the present, shot by shot. Tidak boleh mikirin hal-hal lain, apalagi soal uang. Fokusnya harus ke pukulan berikutnya,” tutur lulusan University of Oregon itu.
Modal Berharga dari Playoff
Hansel juga membawa pengalaman berharga dari turnamen profesional pertamanya di tanah air. Awal Agustus lalu, ia hampir mencetak kemenangan di Jakarta Golf Club (JGC) Championship 2025, sebelum akhirnya kalah tipis lewat playoff dari Jonathan Wijono.
Alih-alih kecewa, Hansel justru menjadikan pengalaman itu sebagai dorongan baru.
“Itu pertama kali saya ikut playoff sebagai profesional. Pelatih mental saya bilang, pengalaman itu bakal jadi bekal penting. Jadi saya datang ke Asian Tour ini dengan mental lebih siap, apalagi levelnya lebih besar,” katanya.
Tantangan di Pondok Indah
Bicara soal Pondok Indah Golf Course, Hansel mengakui ada dua hole yang membuatnya harus lebih waspada: hole 8 dan hole 16.
“Hole 8 sulit banget, par 3 yang jauh. Tahun 2023 kalau tidak salah saya cuma bisa bikin satu birdie dari empat hari. Hole 16 juga tricky, jadi harus hati-hati,” ujarnya.
Dengan 150 peserta dari berbagai negara, termasuk pegolf top Amerika Serikat dan Thailand, Hansel menyadari persaingan akan sangat ketat. Apalagi dua juara bertahan terakhir, Nitithorn Thippong (Thailand) dan Steve Lewton (Inggris), juga kembali berburu trofi.
Langkah Baru Sang Debutan
Meski masih muda, Hansel sudah menunjukkan kedewasaan dalam menyiapkan diri. Dari latihan teknis, penguatan mental, hingga refleksi dari pengalaman playoff, semuanya dirangkai menjadi modal untuk menghadapi debut besarnya di Asian Tour.
Kini, tinggal menunggu bagaimana ia mengeksekusi rencananya di lapangan. Bagi Hansel, Mandiri Indonesia Open 2025 bukan hanya turnamen, melainkan awal perjalanan panjangnya sebagai pegolf profesional dunia.








Users Today : 644
This Month : 26048
This Year : 81621
Total Users : 362620
Total views : 1041282
0 Comments