Damai Indah Golf, PIK Course, menjadi saksi bisu ukiran sejarah baru dalam Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship 2025. Rayhan Abdul Latief, permata golf binaan Ciputra Golfpreneur Foundation (CGF). Rayhan Abdul Latief, menjadi pegolf putra pertama yang berhasil mempertahankan gelar juara dua tahun berturut-turut. Ini bukan sekadar kemenangan, ini adalah deklarasi dominasi.
Rayhan: Sebuah Pelajaran tentang Mental Juara dan Kematangan Diri
Ketika dielu-elukan sebagai juara, Rayhan dengan tenang membagikan resep kemenangannya yang sederhana namun mendalam: “Enjoy, have fun. Enjoy the atmosphere, enjoy the moment. Jangan pernah kalah kerja keras sama orang lain.” Kata-kata ini bukan hanya untaian kalimat motivasi, melainkan cerminan filosofi seorang juara sejati. Rayhan tidak hanya bermain golf; ia merayakan setiap pukulan, setiap momen di lapangan, dan yang terpenting, ia tak pernah berhenti bekerja keras.

Di hari terakhir yang penuh tekanan, Rayhan harus berhadapan dengan tantangan tak terduga. Meskipun ia berhasil mencetak lima birdie di hole 1, 3, 7, 10, dan 17, performanya di hari final justru diwarnai dengan empat bogey di hole 10, 12, 14, dan 18, serta satu triple bogey di hole 9. Hasilnya, ia menyelesaikan putaran terakhir dengan 74 pukulan (+2), menempatkannya di peringkat T37 untuk hari itu. Sebuah anomali yang mungkin akan membuat pegolf lain goyah.

Namun, di sinilah kejeniusan dan kematangan Rayhan terbukti. Modal 131 pukulan (-13) yang ia kumpulkan di dua hari pertama yang impresif menjadi fondasi kokoh yang tak tergoyahkan. Total 205 pukulan (-11) berhasil mengantarkannya meraih gelar Best Gross Overall divisi putra, unggul tipis satu pukulan dari trio Harman Sachdeva (India), Parin Sarasmut (Thailand), dan Shinichi Suzuki (Filipina) yang menempati peringkat T2. Kemenangan ini adalah bukti bahwa golf bukan hanya tentang performa harian, tetapi tentang konsistensi, strategi, dan yang paling penting, manajemen emosi di bawah tekanan.

Bagi Rayhan, turnamen ini adalah panggung terakhir sebelum ia melanjutkan petualangan barunya. Pegolf berusia 18 tahun ini akan bertolak ke Amerika Serikat pada 14 Juli untuk mengikuti dua turnamen, sebelum memulai studi di University of North Texas pada Agustus mendatang, mengambil jurusan business commerce. Kemenangan ini menjadi bekal berharga, sebuah tanda perpisahan manis dari panggung junior yang telah membesarkan namanya, menuju jenjang yang lebih tinggi dan menantang.
Prim Prachnakorn: Keajaiban dari Negeri Gajah Putih, Juara Putri yang Tak Terduga
Di Divisi Putri, kisah heroik datang dari Prim Prachnakorn. Pegolf Thailand ini berhasil meraih gelar Best Gross Overall divisi putri dengan total 210 pukulan (-6), unggul lima pukulan dari Bogyeol Kim (Korea Selatan) dan Maiya Okazaki (Jepang) yang menempati posisi T2. Sebuah kemenangan yang mengejutkan banyak pihak, mengingat persaingan ketat yang terjadi di hari sebelumnya.

“Saya merasa sangat senang karena lapangan ini tidak mudah dan sangat menantang. Saya senang bisa mengatasinya,” ujar Prim dengan senyum sumringah. Kuncinya? “Saya hanya berusaha untuk memainkan permainan saya sendiri, mengikuti rencana permainan yang sudah disiapkan.” Prim menunjukkan kematangan luar biasa dengan fokus pada proses, bukan hanya hasil. Ia berhasil mencetak enam birdie, termasuk tiga birdie berturut-turut yang luar biasa di hole 5, 6, dan 7, yang menjadi kunci kemenangannya.

“Sebenarnya saya hanya fokus untuk menaruh bola di fairway, memukul ke green, dan memasukkannya dengan putter,” lanjutnya, merangkum esensi golf dengan sederhana namun tepat. Kemenangan ini tak hanya memberinya gelar, tetapi juga kesempatan emas untuk berkompetisi di Indonesia Women’s Open 2026, sebuah lompatan besar dalam karirnya. Prim Prachnakorn telah menunjukkan bahwa konsistensi dan fokus pada dasar-dasar permainan dapat membawa seseorang ke puncak.

Dominasi Thailand di Nomor Beregu, Indonesia di Podium Ketiga
Di kompetisi tim, Thailand kembali menunjukkan kekuatannya. Tim yang diperkuat oleh Teerawut Boonseeor, Parin Sarasmut, Prim Prachnakorn, dan Pinyaphat Kamolborvorn berhasil meraih gelar juara dengan total 629 pukulan. Sebuah dominasi yang menunjukkan kedalaman bakat golf junior di Negeri Gajah Putih. India menjadi runner up dengan 642 pukulan, diperkuat oleh Harman Sachdeva, Mahir Rakhra, Janneya Dasanniee, dan Anvvi Dahhiya.

Yang membanggakan, Tim Indonesia B berhasil menempati peringkat ketiga dengan 648 pukulan. Tim ini terdiri dari Kenneth Sutianto, Asyrafa Suryanto, Caithlyn Ong, dan Maureen Yose. Sebuah pencapaian yang layak diacungi jempol, menunjukkan bahwa regenerasi atlet golf Indonesia terus berjalan dan menghasilkan talenta-talenta menjanjikan.

Divisi Development: Masa Depan Gemilang di Tangan Jennifer dan Nguyen Bao Phat
Di Divisi Development Putri, Jennifer Quinn Effendi dari Indonesia kembali membuktikan dominasinya dengan menjadi juara, memimpin dengan 214 pukulan (-2). Diikuti oleh rekan senegaranya, Alleta Kahfi, dengan 228 pukulan (+12), dan Apinya Panjakabutr dari Thailand di peringkat ketiga.

Sementara itu, di Divisi Development Putra, Nguyen Bao Phat dari Vietnam menjadi juara dengan 218 pukulan (+2). Reicher Santoso dari Indonesia menempati peringkat kedua dengan 229 pukulan (+13), disusul Isaac Timso dari Hong Kong di peringkat ketiga dengan 232 pukulan (+16). Divisi Development ini adalah kawah candradimuka, tempat para pegolf muda mengasah kemampuan dan mempersiapkan diri untuk level kompetisi yang lebih tinggi.

Apresiasi dan Visi ke Depan: Magnet Global untuk Bakat Golf Muda
Budiarsa Sastrawinata, Pendiri Ciputra Golfpreneur Foundation dan Presiden Direktur PT Damai Indah Golf Tbk, dengan bangga mengucapkan selamat kepada para juara dan mengapresiasi seluruh peserta. “Semoga tahun depan dan tahun-tahun berikutnya akan semakin banyak negara yang tertarik untuk ikut berkompetisi di turnamen ini. Lebih banyak negara, lebih banyak prestasi,” harap Budiarsa.

Harapan ini bukan tanpa dasar. Turnamen tahun ini diikuti oleh 141 peserta dari 21 negara, termasuk empat negara Afrika yang untuk pertama kalinya bergabung: Botswana, Kenya, Namibia, dan Zimbabwe. Kehadiran mereka tak hanya menambah warna, tetapi juga menegaskan bahwa Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship telah menjadi magnet global bagi bakat golf muda, sebuah platform vital untuk mengasah mental juara dan melahirkan bintang-bintang baru di kancah golf dunia. Sejarah telah diukir, dan masa depan golf yang gemilang menanti.











Users Today : 158
This Month : 786
This Year : 21986
Total Users : 302985
Total views : 883035
0 Comments