Bryson DeChambeau kembali menunjukkan reputasinya sebagai salah satu pegolf paling berkarakter di LIV Golf League.
Pegolf asal Amerika Serikat itu merebut gelar LIV Golf Singapore setelah melewati duel playoff menegangkan melawan Richard T. Lee di Sentosa Golf Club, Minggu.
Kemenangan DeChambeau datang dalam cara yang dramatis sekaligus tak terduga. Setelah kedua pemain sama-sama menutup 72 hole dengan skor 14-under 274, pertandingan harus ditentukan melalui playoff. Pada momen penentuan itu, DeChambeau mampu menjaga ketenangan untuk mencatat par, sementara Lee justru gagal menuntaskan putt pendek sekitar dua kaki yang seharusnya bisa memperpanjang persaingan.
Momen tersebut langsung mengakhiri harapan Lee menciptakan salah satu kisah terbesar musim ini.
DeChambeau tampil solid pada putaran final dengan skor 5-under 66, termasuk birdie penting di hole par-5 ke-18 yang membawanya ke posisi puncak klasemen. Di sisi lain, Lee juga menunjukkan mental bertanding yang kuat dengan mencatat skor serupa setelah membukukan empat birdie dalam enam hole terakhir.
Turnamen ini sebenarnya nyaris menjadi panggung sejarah bagi Lee. Pegolf Kanada berusia 35 tahun itu hampir menjadi pemain wild card pertama—tanpa afiliasi tim—yang mampu menjuarai turnamen LIV Golf. Namun, tekanan di momen terakhir menjadi penentu.
“Saya mencoba memukul putt itu dengan tegas karena jaraknya pendek, tetapi ternyata sedikit terlalu keras. Mungkin karena adrenalin saya sedang tinggi,” kata Lee.
Meski harus puas sebagai runner-up, Lee tetap membawa pulang hadiah sebesar 2,25 juta dolar AS, yang menjadi pencapaian finansial terbesar dalam karier profesionalnya. Perjalanannya menuju LIV Golf sendiri terbilang tidak mudah, setelah sebelumnya harus melalui jalur kualifikasi LIV Promotions untuk mendapatkan tempat di liga tersebut.
Di sisi lain, DeChambeau mengakui dirinya cukup terkejut melihat kegagalan Lee pada momen krusial tersebut. Ia bahkan teringat pada salah satu kejadian klasik di dunia golf ketika peluang kemenangan bisa berubah hanya dalam satu pukulan pendek.
“Melihat itu terjadi tepat di depan Anda dan justru menjadi keuntungan bagi Anda terasa sangat aneh,” ujar DeChambeau.
Gelar di Singapura ini menjadi trofi keempat DeChambeau di LIV Golf sekaligus kemenangan pertamanya dalam format turnamen 72 hole sejak ia menjuarai U.S. Open 2024. Hasil ini sekaligus menegaskan bahwa mantan juara major tersebut masih menjadi salah satu kekuatan utama di sirkuit LIV.
Sementara itu, veteran Inggris Lee Westwood juga mencuri perhatian setelah finis di posisi ketiga. Hasil tersebut menjadi pencapaian terbaiknya sejak bergabung dengan LIV Golf League dan menandakan bahwa pengalamannya masih menjadi faktor penting di level tertinggi.
Pegolf Spanyol Jon Rahm juga tetap konsisten dengan finis di posisi kelima, meski sebelumnya ia mencatat lima turnamen beruntun dengan hasil juara atau runner-up.
Pada kategori tim, dominasi kembali ditunjukkan skuad 4 Aces GC yang dipimpin Dustin Johnson. Tim tersebut berhasil mengamankan gelar tim untuk pekan kedua berturut-turut, mempertegas status mereka sebagai salah satu kekuatan paling stabil di LIV Golf musim ini.
Kemenangan DeChambeau di Sentosa tidak hanya soal trofi, tetapi juga tentang bagaimana satu pukulan sederhana bisa mengubah jalan cerita sebuah turnamen. Dan di Singapura, keberuntungan berpihak kepada pegolf yang mampu menjaga ketenangan hingga detik terakhir.








Users Today : 524
This Month : 13601
This Year : 47330
Total Users : 328329
Total views : 963236
0 Comments