31/01/2026
by rudy iskandar

Debut Dewasa Blades Brown di PGA Tour: Dari Kelulusan SMA ke Satu Grup dengan Scottie Scheffler

Dua pekan setelah menyelesaikan sekolah menengah, Blades Brown sudah berdiri di tee box PGA Tour. Usianya baru 18 tahun, tetapi cara ia menjalani debut profesionalnya di ajang American Express menunjukkan…...
"

Start reading

Dua pekan setelah menyelesaikan sekolah menengah, Blades Brown sudah berdiri di tee box PGA Tour. Usianya baru 18 tahun, tetapi cara ia menjalani debut profesionalnya di ajang American Express menunjukkan kedewasaan yang melampaui angka di kartu identitas.

Brown memang belum membawa pulang trofi. Namun, finis T18 di PGA West—dengan pengalaman bermain satu grup bersama pegolf nomor satu dunia Scottie Scheffler—menjadi debut yang terasa seperti pernyataan: ia bukan sekadar penggembira muda.

Rickie Fowler, yang menyaksikan langsung perjalanan Brown sepanjang pekan, melihat sesuatu yang familiar. “Itu mengingatkan saya pada masa-masa awal saya,” kata Fowler. Menurutnya, fase seperti ini harus dinikmati sepenuhnya, karena waktu di level tertinggi golf profesional berjalan jauh lebih cepat daripada yang disadari banyak pemain muda.

Dari Bahama ke California

Perjalanan Brown menuju PGA West sendiri sudah mencerminkan lompatan besar dalam hidupnya. Ia tiba di California setelah lebih dulu tampil di Korn Ferry Tour di Bahama, lalu melanjutkan ke American Express sebagai undangan sponsor. Setahun sebelumnya, di turnamen yang sama, Brown gagal melewati cut. Kali ini, ia tampil jauh lebih tenang, konsisten, dan mampu bertahan hingga akhir pekan.

“Saya benar-benar menikmati semuanya. Saya 18 tahun dan bisa bermain di PGA Tour. Itu pengalaman yang luar biasa,” ujar Brown, tanpa mencoba menyembunyikan antusiasmenya.

Belajar Langsung dari yang Terbaik

Momen paling berharga datang di putaran final. Brown satu grup dengan Scottie Scheffler dan Si Woo Kim—sebuah kelas master dadakan di level tertinggi. Ia mengawali ronde dengan solid, sebelum sebuah double bogey di hole kelima sedikit menggerus momentumnya. Dari titik itu, Scheffler menunjukkan mengapa ia berada di puncak dunia, menjauh perlahan dan akhirnya menang dengan selisih empat pukulan.

Brown menutup hari terakhir dengan skor dua di atas par, hasil yang mungkin terlihat biasa di atas kertas. Namun bagi Brown, pelajaran yang ia dapatkan jauh lebih bernilai.

“Bermain bersama Scottie benar-benar membuka mata saya,” katanya. “Terutama bagaimana dia mengontrol short game—spin, lintasan bola, sampai putting. Itu level yang ingin saya capai.”

Jalur yang Berbeda

Tidak seperti banyak pegolf seusianya, Brown memilih langsung beralih ke profesional tanpa melewati golf kampus. Keputusan yang berisiko, tetapi ia percaya menghadapi persaingan tertinggi sejak dini akan mempercepat proses belajarnya.

Debut di American Express seolah mengonfirmasi keyakinan itu. Brown mungkin belum menjadi headline utama, tetapi ia meninggalkan PGA West dengan sesuatu yang lebih penting: rasa percaya diri bahwa ia mampu bersaing, dan peta jalan yang lebih jelas tentang apa yang harus ditingkatkan.

“Setiap orang punya jalannya masing-masing,” ujar Brown. “Saya hanya fokus menjalani proses saya sendiri.”

Untuk seorang 18 tahun yang baru saja lulus SMA, itu terdengar seperti kalimat sederhana. Namun di PGA Tour, kalimat seperti itu sering kali menjadi awal dari perjalanan panjang menuju puncak.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pick your next post

Contact Us

Address : Jl. Media No.88 - Jakarta Barat - 18789 - INDONESIA
______________________________
Email : halo@golftimes.id
Office : 0812-3456-7890
Advertising Info : 0811-1967-688

Information

  • Redaksi
  • Karir
  • Media Partner
  • Info Iklan

Categories

News
Profile
Junior & Amatir
Video
Tips & Tricks

301891
Users Today : 167
This Month : 20892
This Year : 20892
Total Users : 301891
Total views : 878541