PGA Tour akhirnya mengambil langkah strategis yang bisa mengubah peta kekuatan golf profesional dunia. Setelah bertahun-tahun bersikap keras terhadap pegolf yang membelot ke LIV Golf, Tour resmi meluncurkan PGA Tour Returning Member Program—sebuah jalur khusus yang membuka peluang kembalinya pegolf elite LIV ke panggung utama golf pria.
Program ini diumumkan pada Senin (12/1), bertepatan dengan kabar besar kembalinya Brooks Koepka ke PGA Tour melalui Farmers Insurance Open akhir bulan ini. Sebuah sinyal kuat bahwa era “pengasingan permanen” mulai bergeser ke pendekatan yang lebih pragmatis—meski tetap menyakitkan bagi para pelanggar lama.
Ketika LIV Golf pertama kali muncul dengan sokongan dana Arab Saudi, PGA Tour merespons tegas: skorsing dan ancaman larangan seumur hidup. Namun waktu mengubah segalanya. LIV gagal menandingi peringkat dunia, visibilitas global, dan legitimasi kompetitif PGA Tour, sementara tekanan untuk menyatukan kembali ekosistem golf semakin kuat.
Namun kepulangan bukan tanpa harga.
Harga Mahal untuk Pulang ke Tour
Dalam kasus Koepka, PGA Tour menegaskan bahwa ini bukan proses negosiasi. Mantan pegolf nomor satu dunia itu harus melepas potensi ekuitas Program Ekuitas Pemain PGA Tour selama lima tahun, yang nilainya diperkirakan mencapai US$50–85 juta, serta menyetujui donasi amal sebesar US$5 juta.
“Ini memang dimaksudkan untuk menyakitkan—dan memang menyakitkan,” kata Koepka kepada Associated Press.
“Saya paham ini bukan jalan mudah. Akan ada pemain yang senang, ada yang marah. Jika ada yang kecewa, saya harus membangun kembali hubungan itu.”
Pernyataan tersebut menggambarkan dilema besar yang dihadapi para “mantan pembelot”: diterima kembali secara administratif bukan berarti langsung diterima secara emosional oleh sesama pemain.
Kriteria Super Ketat, Nama-nama Besar Masuk Radar
PGA Tour juga menetapkan kriteria yang sangat spesifik. Hanya pegolf dengan prestasi elit yang memenuhi syarat—yakni mereka yang menjuarai The Players Championship atau salah satu turnamen mayor (Masters, PGA Championship, U.S. Open, The Open Championship) antara 2022–2025.
Menariknya, hanya tiga pegolf LIV aktif yang memenuhi kriteria tersebut:
- Bryson DeChambeau
- Jon Rahm
- Cameron Smith
Ketiganya memiliki waktu hingga 2 Februari untuk memutuskan apakah akan memanfaatkan jalur kembali ini. Meski begitu, sinyal yang muncul masih abu-abu. DeChambeau dan Rahm mengisyaratkan akan tetap bermain di LIV musim ini, sementara Smith bahkan secara terbuka menyatakan komitmennya kepada liga tersebut.
Nama besar lain seperti Phil Mickelson, salah satu kritikus paling vokal PGA Tour sekaligus ikon LIV, tidak memenuhi kriteria, menutup peluang comeback-nya secara resmi.
Masa Depan LIV di Persimpangan Jalan
Langkah PGA Tour ini memunculkan pertanyaan besar: apa masa depan LIV Golf jika lebih banyak bintang memilih pulang?
Rencana penggabungan PGA Tour–LIV yang sempat digadang-gadang kini terlihat semakin rapuh. Meski PGA Tour telah mengamankan investasi US$3 miliar dari Strategic Sports Group untuk membangun program ekuitas, arah jangka panjang “rekonsiliasi golf dunia” masih jauh dari kata jelas.
Satu hal yang pasti, Returning Member Program bukan sekadar jalur pulang—melainkan pernyataan kekuasaan. PGA Tour menunjukkan bahwa pintu bisa dibuka, tetapi dengan syarat berat dan harga mahal. Dan bagi para bintang LIV, keputusan ke depan bukan hanya soal uang atau trofi, melainkan juga warisan dan legitimasi karier.
Golf profesional, sekali lagi, memasuki babak baru—dan GolfTimes akan terus mengawalnya.







Users Today : 165
This Month : 10913
This Year : 10913
Total Users : 291912
Total views : 851879
0 Comments