Harapan besar yang dibawa tim nasional golf putri Indonesia dalam ajang bergengsi Queen Sirikit Cup 2025 harus pupus setelah ketiga atlet Tanah Air gagal tampil maksimal di babak final.
Bertanding selama empat hari penuh sejak 13 hingga 16 Mei di Miyazaki Country Club, Jepang, tim Indonesia harus puas menutup turnamen di posisi ke-11.
Pelatih tim nasional Alga Topan tidak menutupi kekecewaannya, namun tetap realistis menilai performa anak-anak asuhnya.
“Yaa… sesuailah dengan kemampuan mereka saat ini. Tapi saya tetap salut dengan semangat juang mereka,” kata Official Tim Golf Putri Indonesia, Netty D Hariadi.
Salah satu pemain andalan, Thea Jessica Tan, sempat menunjukkan performa solid dengan mencetak 2-under di hari kedua. Namun, di babak final, Thea kehilangan kontrol akurasi, terutama dalam pukulan jarak jauhnya. Beberapa tee shot bahkan masuk ke area pohon pinus yang membuatnya kehilangan banyak stroke.
Dua pegolf lainnya, Bianca dan Caithlyn, juga mengalami kesulitan serupa. Menurut Coach Alga, keduanya kehilangan momentum di area green dan terlalu banyak melakukan kesalahan saat melakukan putt—kesalahan yang seharusnya bisa dihindari.
“Masalahnya bukan sekadar teknik, tapi juga stamina. Mereka terlihat kelelahan secara fisik, terutama karena harus bertanding lima hari berturut-turut sejak practice round,” jelas Coach Alga.
Coach Alga juga menyoroti faktor pengalaman. Ketiga atlet tersebut umumnya bertanding di turnamen junior dan amatir nasional yang hanya berlangsung 54 hole. Sementara Queen Sirikit Cup menuntut mereka untuk bermain 72 hole dan membawa troli sendiri selama pertandingan berlangsung tanpa bantuan caddy.
“Hal-hal seperti ini yang harus mulai dibiasakan. Queen Sirikit Cup bukan sekadar ajang turnamen, tapi juga barometer kemampuan dan daya tahan pemain,” tegasnya.
Meski hasilnya belum memuaskan, keikutsertaan Indonesia dalam Queen Sirikit Cup ke-45 ini tetap menjadi bekal penting untuk menghadapi edisi selanjutnya yang rencananya akan digelar di Indonesia.
“Ini pengalaman yang sangat berharga. Mereka bisa belajar banyak dari kualitas permainan negara lain, dan melakukan evaluasi menyeluruh. Kami berharap tahun depan bisa tampil lebih siap,” ujar Coach Alga.
Senada dengan pelatih, Netty D Hariadi juga menekankan pentingnya persiapan matang sejak jauh hari jika ingin bersaing di level Asia Pasifik.
“Ini PR kita bersama. Kami berharap ke depan persiapan tim putri lebih terstruktur, baik dari sisi fisik, teknis, maupun mental,” katanya.
Dominasi Korea Selatan dan Thailand
Turnamen tahun ini kembali menunjukkan dominasi negara-negara Asia Timur dan Tenggara. Korea Selatan keluar sebagai juara dengan total 544 pukulan atau 32-under, berkat performa gemilang Hang Sumin dan Min Seo Jung.
Thailand menempati posisi kedua dengan total 559 pukulan (-17) melalui aksi Prim Prachanakorn dan Thitikam Thapasit. Tuan rumah Jepang menyusul di posisi ketiga dengan 565 pukulan (-11) dari Aira Nagasawa dan Anna Iwagana.
Sementara China berada di peringkat keempat (569 pukulan, -7), disusul India di posisi kelima (574 pukulan, -2).
Meski belum berhasil menembus papan atas, partisipasi Indonesia tetap menjadi langkah penting dalam proses pembinaan jangka panjang atlet-atlet golf putri nasional. Harapannya, pengalaman di Jepang menjadi titik balik menuju prestasi lebih baik di masa mendatang.









Users Today : 351
This Month : 626
This Year : 21826
Total Users : 302825
Total views : 882585
0 Comments